15 Guru Bahasa Indonesia Ikuti Pelatihan Program BIPA

DILI, STLNEWS.co – Kedutaan Besar Republik Indonesia melalui Atase Pendidikan dan Kebudayaan di KBRI Dili menggelar pelatihan metodologi  pengajaran bahasa Indonesia kepada 15 guru yang mengajar program BIPA di Timor Leste.

Pelatihan metodologi pengajaran program BIPA yang berlangsung dua (2) hari (5-6 Desember) di Pusat Budaya Indonesia (PBI) Dili, secara resmi dibuka oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk Timor Leste, Okto Dorinus Manik.

Tim pemateri  metodologi pengajaran program BIPA untuk 15 guru di Timor Leste datang dari Jakarta (Indonesia) dipimpin oleh Deputy Director Administrasi SEAMEO QITEP in Language, Dr. Misbah Fikrianto, M.M., M.Si, dengan dua orang anggotanya masing-masing, Erni Catur Westi, M. Pd dan Sri Nurasiwati, M. Pd.

Duta Besar Okto Dorinus Manik mengatakan  pembentukan modul bahasa Indonesia sangat penting bagi para guru BIPA (Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing) yang mengajar di Timor Leste, karena mereka yang ingin melanjutkan studi di Indonesia harus menguasai bahasa Indonesia yang baik dan benar.

“Di Timor Leste, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris menjadi bahasa kerja dalam pekerjaan, administrasi publik bersama dengan bahasa resmi lain saat diperlukan. Ini sudah tertulis dalam Konstitusi RDTL Pasal 159,” kata Duta Besar Okto Manik.

Dia juga menyatakan bahwa  bahasa Indonesia perlu ditingkatkan kualitasnya di Timor Leste karena Timor Leste nantinya menjadi anggota penuh ASEAN dapat berkomunikasi dengan baik dengan beberapa negara anggota ASEAN, seperti Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Filipina, dan Thailand.

“Mempelajari bahasa tidak memandang usia, orang yang bekerja di Kementerian Luar Negeri seperti saya belajar banyak bahasa. Saya belajar bahasa Jepang, Prancis, dan bahasa lainnya, karena kami melakukan misi diplomatik tidak hanya di satu negara, tetapi banyak negara memerlukan pemahaman bahasa yang beragam,” kata Duta Besar Okto Manik.

Dubes Okto Manik juga mengatakan bahwa Bahasa Indonesia sudah ditetapkan sebagai bahasa resmi atau official language Konferensi Umum (General Conference) UNESCO. Keputusan tersebut ditandai dengan diadopsinya Resolusi 42 C/28 secara konsensus dalam sesi Pleno Konferensi Umum ke-42 UNESCO pada 20 November 2023 di Markas Besar UNESCO di Paris, Prancis. 

Bahasa Indonesia menjadi bahasa ke-10 yang diakui sebagai bahasa resmi Konferensi Umum UNESCO, bersama enam bahasa resmi PBB (Bahasa Inggris, Arab, Mandarin, Prancis, Spanyol, Rusia), serta Bahasa Hindi, Italia, dan Portugis. Dengan ditetapkannya hal ini, maka Bahasa Indonesia dapat dipakai sebagai bahasa sidang, dan dokumen-dokumen Konferensi Umum juga dapat diterjemahkan ke Bahasa Indonesia.

Sementara itu, Atase Pendidikan dan Kebudayaan di KBRI Dili, Prof. Dr. Ikhfan Haris menyatakan bahwa pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas para guru program BIPA agar bisa mengajarkan bahasa Indonesia dengan baik kepada orang-orang Timor Leste dengan metodologi pengajaran yang tepat.

“Selama ini program BIPA yang diterapkan di setiap distrik berbeda-beda, tetapi sekarang ada kurikulum baru yang telah kita terapkan di dua distrik sebagai pilot project yaitu di Ermera dan Likisa. Kami berharap kurikulum ini menjadi pedoman bagi para guru yang mengajar bahasa Indonesia di SMA dan SMAK di Timor Leste,” ujar Ikhfan Haris.

(mik/koa)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here