Kalah Pemilu Parlamen, Kedudukan Lu Olo-Mari Alkatiri Digoyang

DILI, STLNEWS.co Pemilihan Umum (Pemilu) Parlamen 2023  membawa malapelataka bagi Partai FRETILIN. Pemimpin partai bersejarah itu, Francisco Guterres Lu Olo dan Mari Alkatiri mulai diobok-obok orang dalam tubuh FRETILIN sendiri karena keduanya dianggap faktor penyebab kekalahan FRETILIN.

Apabila keduanya terus mempertahankan kepemimpinannya di Partai FRETILIN, kekalahan yang sama akan terjadi pada pemilu presidensial dan parlamen mendatang.   

Permintaan agar keduanya melepaskan kekuasaan di Partai FRETILIN datang dari José Agostinho Sequeira Somotxo. Melalui konferensi pers  di Stadion Munisipal Dili, Sabtu (27/5/2023), Somotxo meminta kepada Lu Olo dan Alkatiri bertanggungjawab atas kekalahan FRETILIN pada Pemilu Parlamen 2023. 

Alasan Somotxo meminta Lu Olo dan Alkatiri bertanggungjawab atas kekalahan FRETILIN karena mereka sudah 21 tahun memimpin FRETILIN dan kepercayaan rakyat kepada FRETILIN semakin menurun hingga mendapatkan suatu kekalahan yang sangat memalukan. 

“Kami tidak terima kekalahan FRETILIN. Karena itu, kami tuntut pemimpin Fretilin untuk melepaskan jabatannya,” tuturnya.

Menurut Somotxo, ada tiga tuntutan kepada pemimpin FRETILIN untuk melepaskan jabatannya atas kesalahan yang mereka lakukan sehingga FRETILIN mengalami suatu kekalahan yang memalukan.

Dikatakan, di dunia manapun  dalam demokrasi melepaskan jabatan itu adalah hal yang lumrah. Tidak membutuhkan suatu aksi demonstrasi atau tidak membutuhkan banyak tuntutan.

Menurut Samotxo, jalan terbaik untuk menyelamatkan FRETILIN adalah pemimpinnya harus melepaskan jabatan karena sudah tidak berhasil dalam memimpin partai sehingga partai mengalami kekalahan yang memalukan. 

Ia meminta kepada pemimpin FRETILIN untuk secepatnya menggelar Kongres Ekstraordinari untuk peralihan kepemimpinan FRETILIN.

Somotxo juga kritik terhadap eksistensi kepemimpinan Troika karena troika bukan lembaga partai, tetapi kepemimpinan Troika muncul untuk memberikan kompetensi kepada kepemimpinan yang baru. 

Sementara itu, mantan anggota Komite Sentral FRETILIN (CCF) Osorio Florindo mengatakan Ketua Umum Partai FRETILIN, Francisco Guterres Lu Olo dan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Fretilin, Marí Alkatiri bukan lagi pemimpin alternatif bagi FRETILIN.

 “Pertanyaan saya adalah karena apa Ketua FRETILIN, Lu Olo dan Sekjen Mari Alkatiri tidak mau melepaskan jabatan. Mereka tidak pikir FRETILIN menang. Mereka menganggap Fretilin menang dan kalah adalah hal biasa,” katanya.  

Menurut Osorio, sejak 2008 mereka sudah membahas bahwa Lu Olo dan Mari Alkatiri bukan lagi alternatif untuk memimpin FRETILIN, bukan lagi pemimpin yang relevan untuk membangun FRETILIN. Buktinya, sekarang suara FRETILIN menurun.

“Karena itu, kami minta keduanya melepaskan jabatan karena mereka bukan lagi pemimpin alternatif. Ini tuntutan kami yang nyata karena kalau Lu Olo dan Alkatiri sekolah rapornya merah terus dari tahun 2001 hingga sekarang. Grafiknya turun, rakyat terus bertambah, tapi pemilih tidak bertambah,” tuturnya.

Menyikapi tuntutan itu, Wakil Ketua Fraksi FRETILIN, Josefa Álvares mengatakan tuntutan  Somotxo dan Osorio tidak masuk akal karena kekalahan partai politik dalam suatu pesta demokrasi adalah hal biasa.

“Kalau mau melakukan evaluasi terhadap pemimpin partai, maka kita sendiri harus lebih dulu evaluasi kinerja kerja kita dan bertanya pada diri sendiri apakah saya bekerja atau tidak dan di dalam bairo sendiri Fretilin menang atau kalah,” kata Josefa.

Menurut Josefa Alvares, ini bukan kekalahan, tetapi demokrasi memang harus seperti itu, ada yang menang  dan ada yang kalah. Harus dicamkan baik-baik bahwa kekalahan itu bukan seperti pohon yang tumbang tidak bisa bangun lagi.

“Kita semua harus melakukan evaluasi bahwa FRETILIN kalah karena apa, kursi turun dari 23 menjadi 19 karena apa. Ini yang kita evaluasi,” tuturnya.

(eme/gui)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here