Figur Pemimpin Ideal: Cendekiawan Atau Intelektual?

Figur Pemimpin Ideal: Cendekiawan Atau Intelektual?
(Mencari Figur Ideal Pemimpin Bangsa Di Era Kegelisahan)

Oleh: Fr. Jerónimo da Cruz, SVD

PADA tahun ini, Timor Leste menyelenggarakan sebuah pesta akbar. Itulah Pemilu (baca: pilpres), sebuah pesta demokrasi. Terlepas apakah penyelenggaraan kehidupan bernegara selanjutnya masih akan berjalan sesuai dengan alur-alur demokrasi. Pemilu pilpres pada tataran terendah menunjukkan bahwa negara kita masih layak disebut negara demokrasi. Tak dapat dimungkiri penyelenggaraan “pesta” besar ini telah menyita banyak anggaran tanpa mempedulikan keadaan bangsa yang lagi krisis. Hal ini menyiratkan betapa pentingnya penyelenggaraan Pemilu yang tidak lain berkaitan dengan suksesi kepemimpinan. Ada sederetan nama yang dicalonkan (atau mungkin juga mencalonkan diri). Pesta demokrasi ini pun telah menjadi pertarungan supersatu, manakala oknum-oknum yang dicalonkan atau mencalonkan diri mulai bersaing satu sama lain, merebut hati para pemilih dengan jalan mengobral janji-janji palsu.

Menguak ke permukaan sebuah pertanyaan kecil: mereka begitu menggebu-gebu mencalonkan diri menjadi pemimpin; Adakah mereka terdorong oleh kepedulian, semangat pelayanan, serta tekad memajukan bangsa ini? Ataukah ada maksud tersembunyi yang berorientasi pada vested interest? Bangsa ini sedang berbaring di ruang ICU (Intensive Care Unit). Dibutuhkan orang-orang yang betul professional “merawat” bangsa ini agar lekas pulih. Tidaklah mengherankan ketika muncul nama-nama baru dalam deretan daftar calon, segelintir anak bangsa menggerutu: “Untuk apa memilih orang-orang baru? Bangsa ini sudah parah. Apa jadinya bila bangsa ini dipimpin oleh mereka yang baru berlatih memimpin?” Pertanyaan ini sama sekali tidak bermaksud menaruh sikap skeptis terhadap kemampuan pihak bersangkutan, bukan pula menyanjung-nyajungi pemimpin lama sambil mengklaim bahwa merekalah yang pantas memimpin bangsa ini. Komentar seperti ini mewakili suatu kebenaran umum yang tidak dapat disangkal: kita membutuhkan pemimpin yang professional dan handal dalam setiap lini kehidupan.

Hakekat Pemimpin dan Kepemimpinan (Apa dan Siapa itu?)

Kebutuhan akan (dan keberadaan pemimpin) dalam suatu kehidupan bersama merupakan tuntutan mutlak. Lihat saja minus malum telah menjadi prinsip dalam pemilihan presiden ini. Kita memilih yang buruk di antara yang terburuk. Itu berarti dalam keadaan apa dan bagaimana pun, adanya pemimpin merupakan suatu tuntutan mutlak untuk kehidupan bersama. Kita tetap wajib memilih figur-figur yang dapat di andalkan menjadi pemimpin.

Apakah kepemimpinan itu dan siapa pemimpin sebenarnya? Ada banyak pandangan dan pendapat berkaitan dengan hal ini. Namun beberapa definisi berikut kiranya dapat dijadikan referensi. Charles J. Keatingh (1995) mendefinisikan kepemimpinan sebagai suatu proses dengan berbagai cara mempengaruhi orang atau sekelompok orang untuk mencapai tujuan bersama. Sementara dalam formulasi yang berbeda, Philip L. Hunsaker dan Anthoni J. Aleksandra mengungkapkan bahwa kepemimpinan merupakan sesuatu yang berkaitan dengan usaha menggerakkan atau mengarahkan orang menuju tujuan. Sedangkan pemimpin oleh Ullich (2002) diartikan sebagai orang yang mampu mengilhami orang lain dengan suatu tujuan atau keinginan untuk mengikuti petunjuk dan telandannya untuk mencapai maksud yang diinginkan oleh mereka yang menyatakannya sadar dan siuman (Bdk. Berkat, No. 88/XXI/2004, hlm. 10-11).

Dari berbagai pengertian di atas, dapatlah dikatakan bahwa kepemimpinan adalah suatu proses atau cara mempengaruhi/menggerakkan orang lain untuk mencapai tujuan bersama. Dua unsur penting yang dikedepankan di sini adalah “adanya kegiatan atau usaha mempengaruhi orang lain” dan “adanya tujuan bersama yang ingin dicapai.” Kegiatan yang dibuat bertitik sasar pada pencapaian tujuan bersama. Sedangkan pemimpin adalah orang yang berusaha dengan berbagai cara mempengaruhi orang lain untuk tujuan tertentu berkaitan dengan kehidupan bersama. Karena itu beberapa unsur penting yang harus menjadi bagian integral dari kepribadian seorang pemimpin adalah daya kreasi dan inovasi, inisiatif, kemampuan sugesti, kemampuan mengarahkan pikiran, pendapat, dan tindakan orang lain untuk mencapai tujuan tertentu yang berkaitan dengan kehidupan bersama.

Pemimpin adalah figur yang selalu memberikan contoh dan teladan serta selalu mengambil langkah pertama dalam setiap kegiatan/aktivitas. Adanya tujuan bersama mengindikasikan apa yang dibuatnya itu sama sekali tidak berorientasi pada kepentingan pribadi. Kesejahteraan dan kebaikan bersama tetap menjadi tujuan yang dinomorsatukan. Maju mundurnya suatu kehidupan bersama juga sangat tergantung pada kelihaian dan kecerdikan seorang pemimpin dalam menentukan arah gerak kehidupan bersama. Hal ini sama sekali tidak bermaksud mengabaikan tanggung jawab pribadi setiap anggota, tetapi mau mengatakan bahwa tanggung jawab terbesar ada pada pemimpin. Kinerja kepemimpinan yang baik merupakan sebuah langkah maju yang menjanjikan tercapainya kesejahteraan dan kebahagiaan bersama.

Cendekiawan dan Intelektual

Benarkah ada perbedaan antara cendekiawan dan intelektual? Prof. Dr. Mudji Sutrisno dalam bukunya Ide-ide Pencerahan (2004:43) memberi afirmasi tentang adanya perbedaan antara intelektual dan cendekiawan. Cendekiawan adalah orang yang dengan potensi budi cerah dan profesi ilmunya terlibat memperjuangkan kebenaran dan keadilan demi pencerdasan dan pemanusiawian tata hidup bersama (menyangkut perkembangan peradaban masyarakat). Ia memberikan kontribusi yang cukup menentukan bagi pencerahan, pencerdasan, dan transformasi humanisasi masyarakat. Karena kepekaan nuraninya, ia mempunyai komitmen untuk memperjuangkan kebenaran dan menegakkan keadilan. Usaha dan perjuangan sang cendekiawan sepenuhnya tercurah dan terarah pada tujuan kesejahteraan dan perkembangan peradaban masyarakat.

Sedangkan intelektual adalah pemakai akal budi untuk analisis realita dan pengembangan ilmu pengetahuan tanpa mengaitkannya dengan urusan kesejahteraan masyarakat. Intelektual tampil sebagai profesi murni tanpa memberi kontribusi bagi transformasi humanisasi masyarakat. Meskipun ia begitu berpeluang karena kompetensi ilmu pengetahuan yang dimilikinya, namun ia sama sekali tidak merasa bertanggung jawab atas kesejahteraan dan kemajuan masyarakat. Ia bahkan bisa menggunakan kelebihannya untuk berbuat sesuatu yang dapat berakibat fatal bagi kelangsungan hidup bersama (masyarakat). Dapat saja ia menjadi aktor intelektual di balik kasus kejahatan yang melanda kehidupan masyarakat.

Berbeda dengan intelektual, cendekiawan tampil mengagumkan karena kecerdasan intelektual dibarengi dengan kepekaan nurani. Ia merasa diri bahwa dengan kompetensi ilmu pengetahuan yang dimilikinya ia mampu menggerakkan dan mengarahkan aneka perubahan untuk mencapai kesejahteraan masyarakat. Dengan latar belakang pemikiran yang komprehensif dan alternatif-kritis, sang cendekiawan memelopori dan menentukan arah gerak perubahan keseluruhan masyarakat ke arah yang lebih baik dan lebih manusiawi.

Figur Pemimpin Ideal: Cendekiawan atau Intelektual?

Sesungguhnya tidak dapat dimungkiri bahwa kita membutuhkan figur pemimpin bermata nurani bersih dan jernih. Pemimpin yang memiliki nurani baik pasti lebih mengedepankan aspek-aspek yang bersifat human dan berdimensi manusiawi. Ia tampil sebagai tokoh pemrakarsa transformasi humanisasi masyarakat.

Siapa yang seharusnya diidealkan menjadi pemimpin. Apakah harus seorang intelektual atau cendekiawan? Diferensiasi cendekiawan dan intelektual menurut Mudji Sutrisno menjadi referensi bagi kita. Dengan melihat karakteristik kedua figur itu (cendekiawan dan intelektual), kita dapat menemukan jawaban yang eksak: cendekiawanlah yang paling tepat dan cocok menjadi pemimpin. Figur pemimpin ideal seharusnyalah lahir dari kalangan cendekiawan. Bukan hanya karena ia cerdas (dengan potensi budi cerah dan profesi ilmunya), tetapi lebih karena kepandaian dan kecerdasan intelektualnya dibarengi dengan kepekaan nurani yang tajam. Memang seorang pemimpin haruslah berwawasan luas dan bermata nurani bersih (mencakup juga daya kepekaan yang tinggi).

Cendekiawan menjadi figur ideal karena dengan wawasan cerah yang dimilikinya yang dibarengi dengan kepekaan nurani ia terlibat memperjuangkan kebenaran dan menegakkan keadilan demi pemanusiawian tata hidup bersama. Dengan kompetensi ilmu pengetahuan dan kepekaan nuraninya ia memberikan kontribusi yang berarti bagi pencerahan, pencerdasan, dan transformasi humanisasi masyarakat. Karakteristik cendekiawan sebagai figur transformatif yang turut bertanggung jawab atas kesejahteraan masyarakat dan mempunyai komitmen untuk berpihak pada kebenaran dan keadilan merupakan karakteristik yang ada secara inheren dalam kepribadian seorang pemimpin.

Dengan wawasan luas dan kepandaian yang dimilikinya, ia mampu mencari solusi terhadap masalah-masalah yang dihadapi, serta dengan ketajaman analisis mampu mengatasi dan mencari jalan keluar atas semua fenomena yang terjadi dalam hidup bersama. Ia adalah penggerak utama yang menjadi pelopor setiap gerakan dan kegiatan yang berhubungan dengan arah gerak transformasi masyarakat. Pemimpin pada dasarnya berpegang pada prinsip dedication to reality (mengabdi pada kebenaran). Oleh faktor ini, Mudji Sutrisno (2004:149), mengungkapkan bahwa legitimasi seorang pemimpin adalah legitimasi moral, yang mana dinobatkan oleh rakyat karena kontribusi dan perjuangan moralnya. Ia menghayati ide dan visi pemerdekaan agar bebas dari ketakutan dan tampil percaya diri menuruti nurani untuk mengatakan yang benar adalah benar. Dalam usaha dan perjuangannya, ia selalu memperhatikan kesejahteraan banyak orang, mengabdi dan menjunjung tinggi keadilan serta mengakarkan budaya demokrasi dalam diri masyarakat. Berkaitan dengan pengakaran budaya demokrasi, maka ia harus menyediakan ruang bagi kebebasan berekspresi (sejauh tidak bertentangan dengan kesejahteraan umum), respek terhadap hak asasi manusia, serta menerima dan mengakui realita pluralisme dalam berbagai aspek kehidupan. Kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat adalah prioritasnya. Karena itu sang pemimpin yang adalah cendekiawan peka terhadap jeritan rakyat kecil yang tersingkirkan dan termarjinalisasikan. Perkembangan peradaban masyarakat adalah yang sangat diperhatikan. Perhatian sepenuhnya terarah pada usaha mencapai kesejahteraan masyarakat yang bagi dia berada di atas segala-segalanya.

Kepemimpinan Servus Servarum: Gaya Kepemimpinan Cendekiawan

Istilah Servus Servarum berasal dari Bahasa Latin. Servus berarti pelayan, hamba atau budak. Servarum berarti pelayanan atau perhambaan diri. Jadi Servus Servarum berarti hamba segala hamba (hamba sahaya). Ia hanya memiliki kewajiban, tanpa memiliki kuasa apa-apa, termasuk atas dirinya sendiri. Ia mengabdi total pada tugas pelayanannya (Bdk. Berkat, No. 80/XXI/2004, hlm. 10-11). Hal ini mengacu pada esensi kepemimpinan sebagai mana dijelaskan oleh Mangunharjana (1976:12) yang pertama-tama tidak terletak pada kedudukan yang ditempati, tetapi pada fungsi atau tugas. Sesuai dengan karakter cendekiawan (figur bermata nurani dan berwawasan luas), model kepemimpinan Servus Servarum sangat cocok sebagai kepemimpinan ideal. Cendekiawan dalam kepemimpinannya selalu mengedepankan komitmen untuk berpihak pada kesejahteraan banyak orang. Komitmen inilah yang mendorongnya untuk mempersembahkan dirinya semata-mata pada tugas pelayanan. Sebagai figur transformatif yang merasa bertanggung jawab atas kesejahteraan masyarakat, ia begitu setia pada tugas yang diembannya.

Model kepemimpinan Servus Servarum menuntut pemimpin tampil dalam dua fungsi yakni gembala dan pelayan. Pertama, sebagai gembala ia bertugas menuntun, mengarahkan, melindungi, merawat, dan memberikan ketenangan bagi masyarakat atau kelompok yang dipimpinnya. Perhatian sepenuhnya tercurah pada orang-orang yang berada di bawah pimpinannya. Hal yang menjadi ciri utama di sini adalah keberanian dan kerelaan berkorban bagi orang yang dipimpinnya. Ini adalah wujud cinta dan perhatiannya. Kedua, sebagai pelayan, ia tampil mengabdikan diri secara total dan berkorban habis-habisan untuk kepentingan tuannya, yang dalam konteks ini terwujud dalam diri mereka yang dipimpinnya. Esensi kepemimpinan terletak pada tugas atau fungsi yang dijalankan dan bukan pada jabatan atau kedudukan yang ditempati sekali lagi dipertegas.

Kepemimpinan Servus Servarum merupakan model kepemimpinan yang paling cocok dengan karakteristik pemimpin yang adalah cendekiawan. Model kepemimpinan Servus Servarum menjadi sarana bagi sang cendekiawan untuk merealisasikan komitmennya berpihak pada kebenaran dan keadilan serta memajukan segala usaha dan perjuangan yang terarah pada tujuan pencapaian kesejahteraan masyarakat.

Potensi intelektual dan kepekaan nurani yang dimilikinya diaplikasikan dan diimplementasikan dalam dan melalui tugas kepemimpinannya, manakala ia tampil sebagai gembala yang memimpin dan menuntun atau juga sebagai pelayan yang mengabdi secara total. Pelayanan publik selalu diutamakan. Dalam model kepemimpinan Servus Servarum sang cendekiawan mewujudkan komitmennya untuk mengabdikan diri pada usaha kesejahteraan masyarakat yang ia rasa dan sadari sebagai bagian dari tanggung jawabnya juga.

Catatan Akhir

Kebutuhan akan pemimpin merupakan tuntutan mutlak dalam kehidupan bersama. Kita pun mengharapkan tampilnya figur-figur pemimpin yang bermata nurani baik, berwawasan luas, dan berdedikasi tinggi. Namun sering terjadi kesenjangan antara apa yang kita harapkan (das sollen – what should be) dengan apa yang menjadi kenyataan (das sein – what is). Ketika masyarakat mengharapkan tampilnya figur pemimpin bermata nurani baik, berwawasan luas, peka, dan berdedikasi tinggi, pada saat yang sama kita harus berhadapan dengan kenyataan bahwa banyak pemimpin kita telah melupakan esensi kepemimpinan karena lebih mengutamakan jabatan dan pangkat dari pada tugas pelayanan dan semangat pengabdian. Tugas kepemimpinan tidak lagi dilihat sebagai pelayanan publik, tetapi lebih sebagai peluang emas untuk peningkatan posisi politis dan nafsu berkuasa serta ajang pemuasan kepentingan pribadi (dan golongan) secara tidak proporsional.

Dalam situasi ini, kita mengharapkan tampilnya dan mendambakan kehadiran figur pemimpin ideal. Hemat penulis, figur pemimpin ideal itu harus lahir dari kalangan cendekiawan. Sang cendekiawan tidak hanya unggul dalam wawasan pengetahuan, tetapi juga mempunyai kepekaan nurani yang mantap serta komitmen untuk berpihak pada kebenaran, menegakkan keadilan dan memperjuangkan kesejahteraan masyarakat. Komitmen inilah yang mendorong untuk mengabdikan diri secara total pada tugas pelayanannya demi kepentingan masyarakat luas.

Penulis Frater TOP di Paroki St. Antonius Balibo, Maliana

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

NEWS UPDATE

Numeru Konflitu Tuun Makaas Dezde Governu Desidi Reativa Atividade Arte Marsiais & Arte Ritual

DILI, STLNEWS.co - Primeiru Ministru (PM) Taur Matan Ruak hateten, dezde governu desidi reativa atividade Grupu Arte Marsiais no Arte Ritual, numeru konflitu iha...

Taur Apresia Esforsu SEJD-KRAM Reativa Atividade Arte Marsiais & Arte Ritual

DILI, STLNEWS.co - Primeiru Ministru (PM) Taur Matan Ruak agradese esforsu Sekretariu Estadu Juventude no Desportu (SEJD) no Prezidente Komisaun Reguladora Arte Marsias (KRAM ), neebe...

Sasin La Iha Konhesimentu Kazu Konstrusaun Armajen Foos

DILI, STLNEWS.co - Kazu konstrusaun armajen foos, Tribunal Distrital Dili kontinua rona sasin. Tanba nee, iha julgamentu kontinuasaun nee, tribunal rona sasin ho inisial MC neebe...